Latest Movie :
Recent Movies
Tampilkan postingan dengan label war. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label war. Tampilkan semua postingan

Stalingrad


SINOPSIS
Stalingrad adalah sebuah drama yang ditetapkan pada tahun 1942, dalam salah satu pertempuran yang paling penting dari Perang Dunia II, yang menghentikan kemajuan pasukan Nazi dan mengubah gelombang perang berpihak pada Sekutu.
Tentara Soviet mount serangan pada pasukan Nazi yang menempati setengah dari Stalingrad di sisi lain dari Volga, tapi operasi untuk menyeberangi sungai tersebut tidak berhasil. Beberapa prajurit yang berhasil mendapatkan ke sisi lain berlindung di sebuah rumah di tepi Volga.

Di sini mereka menemukan seorang gadis yang tak luput ketika Jerman datang. Sementara seluruh kekuatan tentara Jerman turun ke mereka, para pahlawan Stalingrad pengalaman cinta, kehilangan, sukacita dan rasa kebebasan utama yang hanya bisa dirasakan oleh mereka akan mati. Mereka membela rumah di semua biaya saat Tentara Merah mempersiapkan untuk serangan lain.(http://sinopsisfilemkeren.blogspot.com/2014/01/stalingrad.html)

PENDAPAT
 Film War Action Drama "Stalingrad", kisah cinta epik diatur dalam salah satu pertempuran paling dahsyat dalam sejarah modern.

Sengoku Basara - The Last Party


SINOPSIS
Kisah film ini ditetapkan setelah konflik dihasut oleh Toyotomi Hideyoshi berakhir, tapi tidak sebelum Pertempuran Sekigahara menentukan siapa yang akan menjadi Shogun Jepang.(http://darkrazor18.blogspot.com/2013/01/judul-basara-lastparty-kategori-movie.html)

The Men Who Stare at Goats



SINOPSIS
Dibintangi 4 aktor besar: Ewan McGregor, George Clooney, Kevin Spacey, dan Jeff Bridges belum tentu menjamin sebuah film sukses di pasaran. The Men kian cepat tenggelam. Mungkin ibarat kapal yang kelebihan muatan, ia tak mampu mengimbangi. Saya kira ini film tentang apa, dilihat dari judulnya tentu sangat menggoda dan mengundang banyak tanya. Ternyata tentang pendekatan psikologi dalam dunia ketentaraan.

Diinspirasi dari sebuah buku, The Men menceritakan bagaimana jadinya jika sistem protokol militer dirasuki metode psikis yang notabene memandang perlunya menjadikan tentara sebagai kreator dan penyebar virus kedamaian. Senjata digantikan bunga, latihan fisik digantikan tari, dan tentunya tak ketinggalan pelbagai metode NLP (neuro linguistic programming) bisa dipakai. Jalinan cerita disampaikan lewat satu karakter jurnalis gagal yang diperankan Ewan McGregor. Demi pembuktian diri, ia berangkat ke zona merah Irak. Tak sengaja bertemu dengan salah seorang prajurit mantan binaan metode psikologis, ia pun terjerumus dalam petualangan demi petualangan yang semakin memperdalam pengetahuannya tentang misi penerjunan prajurit psikologis—yang diajari mampu membaca masa depan, mematikan kambing hanya lewat tatap mata, dan penguasaan khas psikis lainnya. (http://aromahujansorehari.blogspot.com/2011/10/resensi-film-men-who-stare-at-goats.html)



PENDAPAT
Terrific movie! Hilarious, smart and interesting.
I just got back from seeing "The Men Who Stare at Goats" at the Woodstock Film Festival. I walked in knowing the main plot, and I expected it to be pretty good because of the great actors it has, the premise of the story and the music used in the soundtrack. My expectations weren't only met, but they were greatly exceeded.

The story follows a broken-hearted journalist (McGregor) who goes on the job to Iraq to prove to his ex-wife he isn't weak or frail. There, he meets Lyn Cassidy (Clooney) who is a "psychic" soldier for the US government, trained by his hippie instructor Billy (Bridges) to use his mind, peace and love to overcome hairy military situations. The story is the two mens' adventure together.

The movie is essentially broken down into I'd say 3 parts. The first part is the main story of the journalist and Lyn as they travel in Iraq on a special mission Lyn is on. The second is the very humorous back-story of the history of the creation and existence of the "psychic soldiers" of the military. When I say "back-story" and "history" I mean the main background to Lyn and Billy's character, as well as the main antagonist of the story, played by Kevin Spacey. The third part is the first person narration provided by Ewen McGregor about the things that are going on. He offers insight into his mind and opinions on the things he says and of himself and Lyn as the story progresses.

The Men Who Stare at Goats is a very hilarious movie, with many quotable lines and excellent acting by the entire cast. The story is very unique and the film uses that as a great advantage to itself in setting up the humor. The characters are very real and are taken to heart right away. The film is funny, intriguing, smart, witty, fast-paced, emotional, enjoyable and inspirational. I highly recommend it to any Ewen McGregor, George Clooney, Kevin Spacey or Jeff Bridges fan, for fans of those men will not be disappointed with the acting and mannerisms of the characters those actors portrayed.

The Men Who Stare at Goats is a very fun movie to see in theaters and everyone in my audience were cracking up laughing many, many times. It is a movie for casual movie goers and film aficionados alike. Go see it.

8.5/10
(IMDB)

Justice League: War


Ketika ada makhluk misterius yang meletakkan benda misterius di sekeliling kota Gotham, Batman dan Green Lantern secara tidak sengaja bertemu untuk menghentikannya. Benda misterius ini rupanya merupakan sebuah bom dengan teknologi alien. Menyadari bahwa ada seorang alien di kota Metropolis, Batman dan Green Lantern pun berangkat ke kota tersebut untuk mencari jawaban dari Superman. Di tempat lain kejadian yang sama juga terjadi dan Flash yang menghentikan bom itu memberikan alatnya kepada Professor Silas Stone untuk dipelajari. Sang Professor kemudian menemukan bahwa benda tersebut bukan sekedar bom tetapi merupakan portal ke dimensi lain: dimensi Apokolips yang dikuasai oleh Darkseid. Dengan terbukanya portal tersebut invasi terhadap bumi pun dimulai… bisakah para superhero yang ada menghentikannya?

PENDAPAT
Dalam format animasi, Justice League: War ini adalah sebuah tontonan yang cukup memuaskan dahaga, apalagi ia dirilis ketika muncul berita bahwa film kolaborasi Batman vs Superman akan ditunda setahun lamanya. Memang sudah sering ada film animasi Justice League dari DC Animated Universe Original Movies tetapi rasa-rasanya baru kali inilah ada cerita yang menunjukkan bagaimana awal mula para superhero ini bersatu. Dalam tempo kurang dari 90 menit tentu saja para superhero ini lantas menjadi sangat minim introduksi satu sama lainnya, berharap bahwa penonton sudah familiar dengan siapa saja mereka.


The Book Thief


SINOPSIS
Pada tahun 1938, seorang gadis muda bernama Liesel Meminge (Sophie Nélisse) harus menjadi korban dari aksi Nazi dimana ia harus berpisah dengan ibunya, yang merupakan seorang komunis. Untuk menjauhkan Liesel dari bahaya, ia kemudian di titipkan kepada sepasang suami istri pasangan kelas menengah, Hans Hubermann (Geoffrey Rush) dan Rosa Hubermann (Emily Watson). Walaupun menghadapi beberapa rintangan, Liesel dengan mudah beradaptasi di lingkungan barunya, terlebih dengan bantuan tetangga barunya, Rudy Steiner (Nico Liersch).

Namun kebebasan ruang gerak keluarga Hubermann berubah pada sebuah malam ketika kristallnacht sedang berlangsung. Penyebabnya adalah Max Vandenburg (Ben Schnetzer), pria muda Yahudi yang ayahnya pernah menyelamatkan Hans ketika bersama berada di medan tempur pada perang dunia pertama, dipaksa pergi oleh ibunya untuk menyelamatkan diri, dan memilih kediaman Hans sebagai destinasinya. Dengan keberadaan Max di basement, mereka mulai semakin waspada, yang celakanya justru berbanding terbalik pada Liesel dengan minatnya pada membaca dan juga buku.

PENDAPAT
The Book Thief tidak layak menyandang status hancur, karena dibalik gerak lambat dan hambar dalam pilihan bermain aman itu ia masih mampu menghadirkan potensi yang membuat penonton terus terpaku mengikuti. Masalah utama terletak pada Brian Percival, ia pernah menjadi bagian dari Downton Abbey, sehingga cukup mengejutkan ketika Brian Percival kurang mampu mengendalikan dan merangkai kisah yang sesungguhnya masih bermain pada warna yang sama.


The Squad (El páramo)



SINOPSIS
Film ini menghabiskan sekitar  $1,300,000 . Acting, camera, lingkungan dan pengarahan dari sutradara sangat luar biasa.

Ini adalah film Psikologi bergenre Thriler horor yang sangat menegangkan. Ketegangan Film ini tidak seperti kebanyakan film-film Holliwood lainnya yang mana menggunakan sound effect untuk membuat penontonnya loncat dari kursi, dan menggunakan cerita yang hampir sama berulang-ulang. Film ini Sangat Di sarankan untuk di tonton ,di lihat dari pencahayaan, akting ,penaataan kamera , tempat syuting yang ngeri membuat film ini lebih hidup.Recommended!

SCREENSHOT

War Horse


SINOPSIS

Saat itu dunia berada di ambang Perang Dunia Pertama. Akan banyak nyawa yang hilang di medan pertempuran nanti. Di saat yang sama, Albert Narracott (Jeremy Irvine) akan segera kehilangan sahabat baiknya, seekor kuda yang selama ini selalu menemani Albert.

Kuda bernama Joey ini dijual dan dikirim ke medan pertempuran sebagai kuda perang. Joey sempat menjadi bagian dari kavaleri Inggris. Joey juga sempat mengabdi pada pasukan Jerman. Entah sudah berapa medan pertempuran yang sudah dilewati kuda yang gagah berani ini. Sepanjang perjalanannya, Joey menjadi inspirasi banyak orang, termasuk seorang petani Perancis dan cucunya yang sempat menjadi teman Joey.

Perjalanan Joey masih panjang. Setelah melewati banyak pertempuran, takdir membawa Joey ke tanah tak bertuan. Hanya satu yang ada di benak Joey. Ia harus pulang menemui Albert. Jauh di Inggris, Albert yang masih terlalu muda untuk menjadi tentara nekat menempuh perjalanan jauh untuk menyelamatkan Joey, sahabatnya yang telah hilang.

PENDAPAT
War Horse, tipikal film keluarga ala Spielberg yang ringan, inspiratif, penuh melodrama tentang perjuangan dan persahabatan anatara manusia dan kuda dengan dukungan kualitas sinematik tingkat tinggi. Memang bukan yang terbaik dari Spielberg, tidak sampai terlalu menyentuh, setidaknya buat saya, tapi jelas ini adalah pilihan film yang tepat jika anda mencari sebuah tontonan bersahabat untuk ditonton bersama-sama anak, adik, ayah, ibu bahkan nenek dan kakek anda tanpa terlalu berisik seperti kebanyakan film perang lainnya.


The Flower Of War (Jin líng shí san chai)


SINOPSIS

Ahli strategi militer China, Sun Tzu, dalam bukunya The Art of War mengatakan bahwa hanya orang yang benar-benar memahami dampak buruk suatu perang yang juga tahu keuntungan perang tersebut.

Namun bagi pihak yang tidak terlibat langsung seperti perempuan dan anak-anak, perang akhirnya hanya membawa kedukaan karena harus kehilangan tempat tinggal, kesempatan bermain dan bersekolah, orang-orang terkasih dan bahkan diri mereka sendiri.

Film "The Flowers of War" karya sutradara Zhang Yimou, yang sebelumnya membuat "Hero" dan "House of Flying Daggers", menceritakan sebagian duka perang itu.

Dalam film berdurasi 146 menit itu, Zhang Yimou bertutur tentang kesusahan dan pengorbanan perempuan dan anak-anak di Kota Nanjing yang pada 1937 menjadi medan perang utama antara tentara China dan Jepang.

"Cinta dan pengorbanan adalah hal yang benar-benar abadi, tidak peduli perang atau bencana atau apa pun yang terjadi. Tapi pesan utama dari cerita ini adalah bagaimana semangat kemanusiaan ditampilkan pada masa perang," kata sutradara dan produser film kelahiran tahun 1951 itu.

Film yang menghabiskan dana hingga 94 juta dolar AS tersebut merupakan adaptasi dari novel "13 Flowers of Nanjing" karya Geling Yan.

Sang penulis novel mendapat inspirasi cerita dari kejadian nyata mengenai beberapa perempuan penghibur di Nanjing, yang bersedia menggantikan sejumlah mahasiswi yang diminta untuk "menemani" tentara Jepang.

"Saya sangat menyukai novel itu karena merupakan cerita kemanusiaan, suatu cerita yang dilihat dari sudut pandang perempuan, itulah keunikannya. Dan saya sangat ingin menerjemahkannya ke dalam film," ungkap Yimou.


Pengorbanan

Cerita dimulai saat seorang pria asal Amerika Serikat bernama John Miller, yang diperankan oleh Christian Bale (pemenang Academy Award dalam film "The Fighter"), datang ke Nanjing untuk memakamkan seorang pastor Katolik di suatu gereja.

Awalnya ia datang hanya untuk mencari uang dari keahliannya mendandani mayat, namun ia malah menemukan 14 siswi biara yang bersembunyi dalam gereja bersama George (Huang Tianyuan), seorang remaja yang menjadi asisten pendeta dan diminta menjaga para siswi.

Para siswi remaja itu ketakutan bila suatu saat tentara Jepang menyerbu masuk ke gereja dan akan memperkosa mereka, karena saat itu kota Nanjing sedang dibumihanguskan oleh Jepang dan tentara Jepang mencari perempuan atau anak-anak untuk melampiaskan nafsu mereka.

John yang suka mabuk itu kemudian menyamar sebagai pastor di hadapan para siswi.

Namun ia jadi bingung karena 15 perempuan penghibur dari rumah bordil di "distrik merah" Nanjing datang ke gereja untuk mencari perlindungan, bahkan meminta John mengantar mereka keluar dari Nanjing dengan imbalan yang menarik.

Para siswi yang dipimpin oleh Shu (Zhang Xinyi) tidak menyukai kehadiran para perempuan penghibur yang menurut mereka membuat gereja kotor. Tapi pemimpin perempuan penghibur itu, Yu Mo (Ni Ni), berupaya agar teman-temannya menjaga sikap selama menumpang di gereja.

Sayang saat mereka mengira gereja sebagai tempat yang aman, tentara Jepang malah mendobrak masuk dan mengejar-ngejar para siswi untuk melampiaskan nafsu mereka, apalagi karena mereka dianggap masih perawan.

Di luar dugaan Shu mau mengalihkan perhatian tentara Jepang dari ruang bawah tanah yang menjadi tempat persembunyian sementara para perempuan penghibur akhirnya berlarian di dalam gereja untuk menghindari kejaran tentara Jepang.

John yang tadinya hanya bersembunyi di kamar berhasil mengumpulkan keberanian dan membawa bendera palang merah besar serta meneriakkan bahwa gereja adalah rumah Tuhan dan tidak pantas tentara Jepang menyerbu ke sana, namun tidak diindahkan oleh tentara Jepang.

Untungnya John mendapat bantuan dari seorang penembak jitu China, Mayor Li, yang diperankan oleh Tong Dawei, aktor yang pernah bermain di film "Red Cliff".

Mereka berdua berusaha menjebak tentara-tentara Jepang itu di luar gereja sehingga para siswi dan perempuan penghibur bisa selamat, meski dua siswi akhirnya tewas.

Ternyata usaha itu pun tak membuat gereja aman, karena seorang perwira Jepang, Kolonel Hasegawa (Atsuro Watabe) mendatangi gereja dan meminta para siswi untuk bernyanyi.

Awalnya Hasegawa berbaik hati memberikan cadangan makanan namun kemudian ia meminta para siswi datang ke markas Jepang untuk merayakan kemenangan mereka di Nanjing.

John menolak dengan alasan keselamatan para siswi, tapi Hasegawa berkeras bahwa permintaan itu adalah perintah atasannya, yang bahkan menempatkan tentara menjaga kompleks biara agar para siswi tidak kabur.

John berupaya untuk mencari cara agar mereka dapat kabur dengan bantuan ayah Shu, Mr. Meng (Cao Kefan), yang menjadi antek tentara Jepang demi menyelamatkan anaknya guna mendapatkan surat izin keluar kota sambil memperbaiki truk yang ada di gereja.

Para siswi yang dipimpin oleh Shu sudah pesimistis dan ingin bunuh diri walau akhirnya berhasil dicegah oleh John, Yu Mo dan perempuan penghibur lainnya.

Yu Mo berhasil meyakinkan Shu dan kawan-kawan bahwa Yu dan perempuan penghibur lain bersedia bertukar peran untuk datang ke markas Jepang, meski ide itu mendapat tantangan dari rekan-rekan Yu.


Tak hanya kemuraman

Meski berkisah tentang perang dan pengorbanan namun film drama itu tak hanya menampilkan kemuraman.

Nuansa indah juga hadir dari pesona para perempuan penghibur yang tetap tampak cantik meski dalam suasana perang.

Meski lontaran pedas sering keluar dari mulut para perempuan penghibur, namun wajah mereka tetap disapu bedak dan dipoles gincu merah lengkap dengan rambut yang ditata menarik serta pakaian indah dengan asesoris serasi.

Nuansa indah juga hadir dari keberhasilan para pelakon yang berhasil memainkan karakter-karakter yang bersedia berkorban demi sesama dalam keadaan sangat sulit.

Seperti film Zhang Yimou lainnya, gambar dalam film ini juga indah dengan dukungan kerja Zhao Xiaoding sebagai Director of Photography. Zhao Xiaoding juga bekerja bersama Zhang Yimou dalam film "Hero", "Curse of the Golden Flower" maupun "House of Flying Daggers."

Dan mungkin keindahan film dengan tiga bahasa (Inggris, China, dan Jepang) itu ikut membawanya masuk nominasi berbagai ajang penghargaan.

Film produksi studio Beijing New Picture Film Co. Limited itu masuk nominasi untuk Best Foreign Language Film dalam Academy Award ke-84 serta Golden Globe Award.



Act Of Valor


SINOPSIS

“Ketika berjumpa dengan seorang prajurit US Navy SEAL yang masih aktif bertugas, Anda akan dapat merasakan sebuah intensitas dan aura yang hampir tidak mungkin untuk ditiru oleh orang awam. Ia mungkin sudah berlatih dan aktif bertugas selama 20 tahun. Lantas, bagaimana seorang aktor dapat memerankan prajurit tersebut?” demikian ujar sutradara Scott Waugh dalam siaran pers untuk film perang fenomenal terbaru, Act of Valor.

Setelah berhasil menumpas Osama bin Laden dan bajak laut Somalia, US Navy SEAL (pasukan khusus Angkatan Laut Amerika) tengah berada di garda terdepan pasukan keamanan internasional dan menjadi sorotan banyak pihak.

Tentu saja, US Navy SEAL telah berkali-kali digambarkan dalam beberapa film Hollywood sebelumnya seperti GI Jane yang dibintangi Demi Moore dan Navy SEAL yang dibintangi Charlie Sheen. Namun hingga kini, kita belum benar-benar melihat sosok penggambaran alami dari para prajurit tangguh tersebut. Sebagai sutradara, Mike McCoy berpendapat bahwa US Navy SEAL dalam pertempuran sesungguhnya, jauh melebihi segala yang dapat digambarkan oleh Hollywood.

Pemeran dalam film Act of Valor sebagian besar terdiri dari prajurit aktif yang bertugas di SEAL. Namun dapatkah para prajurit yang biasa bertempur lantas disuruh berakting? Ya, tapi mereka tidak benar-benar harus (berakting). Mereka cukup dengan melakukan kegiatan yang biasa dilakukan, dan karena kamera teknologi terbaru, kita serasa seperti lalat yang bisa “terbang” menjelajah di sekeliling di dinding kapal selam, di dalam senapan milik penembak jitu, dan di dalam masker penyelam milik SEAL. Hasilnya adalah sebuah inovasi yang menakjubkan. Ini adalah film bergenre baru.

Cerita ini berdasarkan kejadian nyata. Ketika tim penyelamat agen CIA yang diculik mengarah pada pengungkapan rencana mematikan untuk melawan Amerika Serikat, tim SEAL kemudian dikeluarkan untuk misi “anti-teroris global”. Misi ini layaknya sedang berburu harta karun yang mematikan. Penggambaran operasi khusus ini diseimbangkan dengan menampilkan sisi humanisme para prajurit, seperti komitmen mereka terhadap negara, tim, dan keluarga mereka.

Belum pernah kita lihat sebelumnya dalam film-film sebelumnya tentang keluarnya pesawat siluman milik SEAL, juga kita tidak pernah menyaksikan awak SWCC (Special Warfare Combatant-Craft) kapal perang dalam tindakan yang nyata. Kapal operasi khusus Mark V SEAL tampak seperti predator laut, berwarna hitam kelam, mengeluarkan beberapa pesawat siluman, dengan mesin yang tampak seperti monster, dan mampu bergerak secepat hiu mako.

Dalam sebuah adegan yang menegangkan, para SEAL melarikan diri dengan mengendarai truk langsung masuk ke sungai hutan dan berenang di dalam air. Awak perahu kemudian menyelamatkan mereka tepat waktu, sambil menghadapi rentetan hujan peluru, benar-benar sebuah penghancuran yang kira-kira dapat menghabiskan enam truk peluru.

Tembak-menembak memang dibuat sangat nyata dan banyak dalam film ini. Suara ringkikan desibel tinggi miniguns yang ditembakkan dari perahu, dan rentetan senapan mesin dari kaliber 50 sudah cukup untuk membuat ujung rambut Anda berdiri.

Para aktor yang dipilih untuk film ini bukan dari kalangan bintang yang ternama, sehingga mereka mampu berbaur dengan baik dengan para awak SEAL yang sesungguhnya. Demikian juga, aspek fakta dan fiksi yang mampu terjalin dengan mulus. Satu-satunya aspek dalam film yang sedikit lemah adalah sulih suara, yang kemungkinan besar dilakukan oleh para awak SEAL sungguhan. Rekaman pertempuran, meskipun tidak benar-benar nyata, namun tetap tergolong realistis dalam arti bahwa SEAL diberikan kebebasan oleh pemerintah untuk merencanakan dan melaksanakan misi sama seperti mereka akan dalam situasi pertempuran nyata.

Ini jarang terjadi di film yang banyak diperankan oleh non-aktor, namun di Act of Valor, situasi ini bekerja dengan baik untuk sebagian besar adegan. Inti dari cerita ini adalah tentang sekumpulan pria yang tenang, rendah hati, tampan namun tidak tampak menonjol pada pandangan pertama, dan berkata bahwa perjalanan hidup yang mereka tempuh ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan, karena pelatihan militer dalam SEAL merupakan pelatihan yang terberat di dunia.

Organisasi ini menginginkan pria yang lebih suka mati daripada menyerah. SEAL memiliki kapasitas manusia super untuk tetap bertahan sampai kematian dalam menghadapi ketakutan dan kesulitan yang ekstrem, sungguh tak terbayangkan oleh kaum awam. Seorang SEAL yang memiliki berat badan 65 kg dapat berlari hingga sejauh 20 km dengan membawa tas berbobot ratusan kilogram di punggungnya. Itu baru tahap awalnya.

Seorang mantan SEAL, dalam wawancara dengan majalah Men’s Journal baru-baru ini, menggambarkan bahwa sebuah tindakan kepahlawanan hanya menjadi sah jika Anda tidak memberitahukan kepada siapa pun tentang hal itu. “Jika tidak ada yang mengetahui Anda naik ke puncak Everest, akankah Anda melakukannya?”

PENDAPAT
Act of Valor merupakan genre film baru. Heroisme yang diuraikan di atas para sosok yang rendah hati dan pola pikir yang dilandasi kesabaran dalam SEAL, adalah wawasan baru ke dalam kredo prajurit sejati.







Meet the Spartans


SINOPSIS

MEET THE SPARTANS merupakan parodi dari film terkenal 300 yang mengisahkan kepahlawanan prajurit Spartan. Film ini disutradarai oleh Jason Friedberg dan Aaron Seltzer yang sebelumnya juga membuat parodi film-film horor dan parodi film-film drama romantis lewat SCARY MOVIE dan DATE MOVIE.

Layaknya film parodi, MEET THE SPARTANS menggabungkan beberapa adegan, karakter, dan cerita dari sejumlah film terkenal dan dibuat lelucon dan plesetan. Film ini tak hanya membuat 300 jadi bahan lelucon, tapi juga film-film box office Hollywood serta fenomena reality show dan berita-berita kontroversial yang berkembang di Hollywood.

Dari posternya, terlihat karakter-karakter TRANSFORMERS, SPIDER-MAN 3, SHREK, GHOST RIDER, LEGALLY BLONDE, RESIDENT EVIL, sampai Britney-Kevin dan bayinya yang jatuh ke 'pit of death'. Selain itu, muncul pula plesetan American Idol yang menyeret juri dan pembawa acaranya yaitu Randy, Paula Abdul, Simon Cowel, dan Ryan Seacrest palsu. Selain Britney, si biang pesta dan pembuat onar, Paris Hilton dan Lindsay Lohan juga tampil.

Namanya juga film parodi, paling mudah dijual tentunya kelucuan yang 'berbau seks'. Tak terkecuali film ini yang menceritakan seorang Ksatria Leonidas (Sean Maguire), yang hanya bersenjatakan pakaian dari kulit. Perselisihan terjadi dengan kerajaan Persia yang menginginkan Spartan tunduk di bawah Persia.

Leonidas berusaha keras mempertahankan dan melindungi tanahnya dari kaum Persia. Dibantu oleh Kapten (Kevin Sorbo), Leonidas merekrut tentara Spartan. Sayang pasukan Spartan yang diharapkan berjumlah 300 ternyata hanya 13 orang saja. Namun dengan tekad dan segala kekonyolan, Leonidas memimpin 13 prajurit Spartan untuk melindungi tanah mereka melawan kaum Persia.

PENDAPAT
Kalau menonton film ini yang terpenting adalah relaks dan nikmati saja parodi yang dihadirkan. Jangan berpikir lucu atau tidak. Haram hukumnya berpikir masuk akal atau tidak. Pokoknya nikmati saja, dan tertawakan ketika kelucuan dihadirkan.







Shinobido: Way of the Ninja


SINOPSIS
Sebuah desa tersembunyi Ninja ada jauh di gunung. OKOU (Aimi Satsukawa) yang dibesarkan sebagai Ninja wanita diperintahkan misi rahasia oleh patriarch.OKOU perlu mendapatkan intelijen tentang KUROBANESHU, musuh yang berencana untuk menghancurkan Desa Ninja. OKOU infiltrat ke kota dan melakukan penyelidikan rahasia di TOGOROU (Ryoichi Yuki), seorang samurai yang diduga menjadi bos musuh. Namun, semakin dia menjelaskan tentang TOGOROU, semakin dia tahu dia adalah seorang samurai baik hati yang cadangan tidak sakit untuk lingkungan. Secara bertahap, mereka tertarik satu sama lain, tetapi mengetahui bahwa OKOU adalah shinobi dan TOKOGORU adalah anggota KUROBANESHU.


SCREENSHOTS

Saving Private Ryan


Saving Private Ryan adalah film Amerika Serikat bergenre sejarah-perang tahun 1998 yang bertemakan peperangan di saat invansi Normandia pada Perang Dunia II. Film ini disutradarai oleh Steven Spielberg dan skenario ditulis oleh Robert Rodat. Film ini dibintangi oleh Tom Hanks, Tom Sizemore, Edward Burns, Barry Pepper, Vin Diesel, Giovanni Ribisi, Adam Goldberg, Jeremy Davies, dan Matt Damon. Film ini mengisahkan petualangan Kapten John H. Miller dalam usaha penyelamatan seorang prajurit bernama Ryan yang kehilangan ke-3 saudaranya dalam perang dan diperintahkan untuk kembali ke Amerika Serikat oleh departemen peperangan Amerika Serikat.

SINOPSIS
Film dimulai saat veteran perang dunia 2 (Harrison Young) dan keluarganya berziarah ke Taman Makam Pahlawan Normandia-Amerika, Colleville-sur-mer, Perancis. Veteran tersebut lalu jatuh berlutut dan menangis di depan sebuah makam. Pada saat itu, scene film berganti menjadi ketika awal dilakukannya Invasi Normandia. Satu di antara pemimpin invasi, Kapten John H. Miller (Tom Hanks) memimpin pasukannya menembus perbatasan milik Jerman di Pantai Omaha, Normandia.

Sementara, di Amerika Serikat, jenderal George Marshall mengetahui bahwa 3 dari 4 prajurit Ryan bersaudara telah terbunuh, maka, agar Ryan bungsu / perwira James Francis Ryan (Matt Damon) tidak mengalami hal serupa dan dapat dikembalikan kepada ibunya, George Marshall memerintahkan agar suatu pasukan dapat mengembalikan pulang Ryan dengan selamat.

Di Perancis, Miller menerima perintah tersebut melalui komandan batalionnya, letkol Walter Anderson (Dennis Farina). Ia pun memilih anggota pasukannya, dan terpilihlah 6 orang (Tom Sizemore, Edward Burns, Barry Pepper, Giovanni Ribisi, Vin Diesel, dan Adam Goldberg) untuk ikut dalam misinya, serta seorang kartografer militer, Timothy E. Upham (Jeremy Davies), sebagai penerjemah bahasa setempat (meski ia jarang menggunakan senapannya).

Dengan tidak adanya informasi apapun di mana Ryan berada, pasukan Miller pun pergi ke Neuville. Di situ, salah seorang anggota mereka, Caparzo (Vin Diesel) tewas tertembak seorang sniper Jerman. Mereka melanjutkan perjalanan dan menemukan perwira James Frederick Ryan (Nathan Fillion) yang ternyata salah orang. Pasukan Miller diberi tahu bahwa titik pendaratan pasukan penerjun yang sekelompok dengan Ryan mendarat di Vierville, dan mereka menuju Vierville.

Beruntung, salah seorang prajurit penerjun yang sekelompok dengan Ryan berada di Vierville, dan ia mengatakan bahwa semua anggota prajurit penerjun terpencar, namun mereka memiliki rally point di Ramelle. Pasukan Miller lalu menuju Ramelle, namun harus melewati kamp Jerman yang menggunakan radar tak terpakai (rusak) sebagai bangunan kamp. Mau tak mau, mereka harus berlari menembus kamp tersebut. Saat berlari melewati kamp tersebut,mereka berhasil membunuh hampir semua prajurit Jerman, namun salah seorang anggota pasukan Miller, Technician Fourth Grade Irwin Wade (Giovanni Ribisi) tewas tertembak. Perwira Richard Reiben (Edward Burns) menemukan salah seorang anggota Jerman yang masih hidup (Joerg Stadler) dan memukulinya, menyulut emosi semua anggota pasukan Miller, kecuali Upham yang protes kepada Miller karena tawanan tidak boleh dibunuh. Miller akhirnya melepasnya, dan menyuruhnya agar melangkah sambil ditutup matanya dan menyerah kepada patroli sekutu.

Heran dan kecewa dengan tindakan Miller, Reiben protes dan bertengkar dengan sersan Michael "Mike" Horvath (Tom Sizemore), yang mengancam akan keutuhan tim, Miller menceritakan darimana asalnya dia berasal dan apa pekerjaannya sebelumnya, yaitu seorang guru dan mengajar bahasa Inggris dan baseball di sebuah sekolah kecil di Pennsylvania. Reiben yang tidak menyangka dan terkejut dengan profesi Miller sebelumnya, diam dan mau melanjutkan perjalanan, setelah mengubur jasad Wade.

Pasukan Miller akhirnya sampai di Ramelle, dan menghancurkan sebuah kendaraan pengintai milik Jerman, dibantu oleh sebuah pasukan kecil, termasuk Ryan di dalamnya. Kedua pasukan bergabung dan Miller lalu memberitahu Ryan bahwa kesemua saudaranya tewas, dan perihal mengenai maksud misinya, yaitu membawa Ryan pulang ke Amerika. Ryan awalnya tidak mau meninggalkan pasukannya, namun setelah mendengar perkataan Reiben bahwa ada 2 orang temannya yang tewas karena mencari Ryan (Caparzo dan Wade), Ryan mau menurut.

Namun, basis tempat pasukan Ryan tugas adalah perbatasan wilayah,dan akan ada serangan dari Jerman menuju ke situ, pasukan Miller akhirnya membantu dan bergabung melawan pasukan Jerman yang datang. Karena persenjataan Jerman lebih lengkap (2 buah Tiger tank, beberapa senapan mesin, 1 buah meriam FlaK 38, dan ± 50 orang pasukan), pasukan Amerika terdesak, satu per satu anggota pasukan Miller tewas, dan ketika strategi menghancurkan jembatan perbatasan akan dilakukan, tank Jerman menggagalkannya, Miller tertembak di jembatan oleh "Steamboat Willie", prajurit Jerman yang tidak jadi dibunuh oleh pasukan Miller saat di dekat Ramelle.

Saat tank Tiger hendak melewati jembatan, Miller yang terluka berusaha menembakinya dengan pistol, tapi tidak berhasil. Ketika tank tersebut di tengah jembatan, sebuah unit P-51 Mustang menembak tank tersebut, dan disusul oleh beberapa unit P-51 lainnya serta pasukan tambahan. Upham yang bersembunyi di dekat "Steamboat Willie", muncul secara tiba-tiba dan menembaknya, yang merupakan orang pertama yang dibunuhnya dalam perang. Ryan lalu mendekati Miller yang sekarat, dan mendengar kata-kata terakhirnya sebelum tewas, yaitu "James...earn this, earn it", yang kurang lebih artinya "James...jangan sia-siakan hidupmu".

Lalu, film kembali ke masa saat Ryan tua yang menjadi veteran berziarah ke makam Miller, seraya bertanya kepada istrinya, "Apakah aku sudah menjadi lelaki yang baik ?" dan istrinya menjawab sudah. Ryan lalu berkata kepada makam Miller, bahwa ia sudah menghargai "hidupnya" dan sudah menjadi lelaki yang baik. Ryan lalu hormat kepada makam Miller dan film pun selesai.






Inglourious Basterds


SINOPSIS

Shosanna Dreyfus (Mélanie Laurent) terpaksa harus menyaksikan keluarganya dibantai tentara Nazi. Untungnya ia berhasil lolos dan melarikan diri ke Paris. Di Paris, Shosanna kemudian bekerja pada sebuah gedung bioskop sebagai operator pemutar film.

Di tempat lain, Letnan Aldo Raine (Brad Pitt) berusaha menggalang kekuatan dengan mengumpulkan para kaum Yahudi dan membentuk satu pasukan yang kemudian dikenal sebagai The Basterds. The Basterds membuat satu rencana besar untuk menggulingkan kekuasaan Hitler yang saat itu makin merajalela.

Dalam rencana besar itu, Aldo melibatkan seorang aktris Jerman bernama Bridget Von Hammersmark (Diane Kruger) yang sebenarnya adalah seorang agen rahasia. Mereka kemudian merancang skenario pembunuhan Hitler yang saat itu dijadwalkan akan hadir dalam sebuah pemutaran sebuah film propaganda di Paris. Rencana besar Aldo ini berisiko gagal karena Shosanna yang kebetulan menjadi tuan rumah acara pemutaran film yang digelar Nazi ini punya rencana sendiri untuk membalas dendam lamanya.

Entah kenapa tapi tahun ini sepertinya jadi tahun keemasan film-film bertema Nazi. Sebelum INGLOURIOUS BASTERDS ini, Tom Cruise muncul dengan film bertema sama yang berjudul VALKYRIE bahkan sebelumnya ada film drama berjudul THE READER yang juga mencoba mengungkap era kelam dalam sejarah dunia ini. Entah karena kebetulan atau memang tren sedang bergeser ke arah sana tapi yang jelas BASTERDS ini tergolong unik dibanding film-film tentang Nazi sebelumnya.

Saat BASTERDS ini baru dipromosikan, ada kesan bahwa proyek Quentin Tarantino ini adalah proyek action semata namun saat menonton film ini, kesan itu hampir tidak ada sama sekali. Adegan tembak-tembakan memang masih ada namun tak seperti biasanya, kali ini Quentin sepertinya mencoba membuat pendekatan lain tentang kata 'kekerasan'.

Sebagian besar film ini berisi dialog dan bukanya adegan baku tembak. Tapi justru di situ letak kekuatan film ini. Selain kemampuan mengolah kata, Quentin juga mampu menyampaikan pesan yang tersirat dalam rangkaian kata itu. Unsur suspense dan thriller di sini disampaikan dalam bentuk suasana yang meliputi percakapan antara para tokoh dalam film ini dan nyatanya itu cukup efektif membangun ketegangan.

Meskipun nama Brad Pitt dipasang sebagai pemeran utama dalam film berdurasi sekitar 150 menit ini namun terlihat jelas bahwa film ini sebenarnya adalah filmnya Christoph Waltz yang berperan sebagai Kolonel Hans Landa. Waltz mampu membawakan karakter Landa yang kompleks dengan sangat baik. Bahkan saat karakter ini berbicara dengan lemah lembut pun kesan intimidasi yang tersirat lewat kata-kata dan raut muka Waltz terlihat dengan sangat jelas.


Dear John


Film yang diangkat dari novel Nicholas Sparks biasanya membuat kita penuh curiga. Kita harus menyediakan sekotak tisyu karena tema Sparks akan melibatkan cinta dan kematian. Film Dear John nampaknya bukan hanya menjual nama Nicholas Sparks, tetapi juga dada six pack Channing Tatum yang dipasang dengan aktris serba bisa yang sedang naik daun Amanda Seyfried (Mamma Mia, Chloe, Letters to Juliette).

SINOPSIS
Cerita dimulai dengan adegan perkenalan antara dua tokoh utamanya, Savannah Curtis dan John Tyree, dimana John menyelamatkan tas Savannah yang tidak sengaja terjatuh ke dalam laut. John adalah seorang anggota Pasukan Khusus Angkatan Darat Amerika Serikat yang sedang berlibur untuk menemui ayahnya, Bill Tyree, ketika ia bertemu Savannah.

Dua minggu berlalu, Savannah akan kembali melanjutkan kuliahnya sedangkan John kembali ke pangkalan tempat ia bertugas. Takut kehilangan John, Savannah berjanji untuk selalu menulis surat dan menceritakan apapun yang terjadi dalam kesehariannya. Setahun adalah waktu yang harus dilalui John untuk menyelesaikan masa tugasnya dan kemudian dapat bertemu kembali dengan Savannah.

Namun, ditengah-tengah masa setahun tersebut, pihak militer dan keamanan Amerika Serikat mengalami tamparan keras dengan terjadinya peristiwa 9 September. Waktu setahun yang telah ditetapkan oleh Savannah dan John, kini harus bertambah panjang karena John ditugaskan ke beberapa lokasi perang.
Hari demi hari berlalu, Savannah tiba-tiba mulai jarang mengirimkan surat. Hingga suatu hari, setelah dua bulan Savannah tak membalas suratnya, John menerima surat yang berisi kabar bahwa Savannah merasa tidak tahan akan kesendiriannya saat itu dan memutuskan untuk berpisah dari John dan bertunangan dengan orang lain.

PENDAPAT
Menurut saya, akting Amanda Seyfried mampu memberikan nyawa pada film ini. Seyfried membuktikan bahwa dirinya semakin banyak ditemui di berbagai judul-judul film populer Hollywood lainnya. Sementara untuk lawan mainnya, Channing Tatum, dalam beberapa adegan terlihat kaku dan kurang mampu berekspresi. Akan tetapi, chemistry antara Seyfried dan Tatum terjalin cukup baik, sehingga hubungan antara kedua karakter terasa cukup memarik perhatian penonton.

Secara keseluruhan, film Dear John menurut saya adalah film yang bagus, meskipun jalan cerita dibagian akhir terasa agak mengada-ada. Film ini sangat saya rekomendasikan kepada mereka yang menyukai film romantis.


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. FILM AND GAMES "KUBU RAYET" - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger