Latest Movie :
Recent Movies
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Marmut Merah Jambu


Sinopsis dan Jalan Cerita Marmut Merah Jambu (2014)

Film yang diangkat dari novel yang berjudul sama bercerita tentang Dika (Raditya Dika) yang datang ke rumah Ina (Anjani Dina) seorang gadis yang merupakan cinta pertamanya sewaktu SMA. Disaat itu Dika juga membawa seribu origami burung bangau di tangan kanannya, dan undangan pernikahan Ina di tangan kirinya. Namun ironisnya, hari esok adalah hari penikahan Ina. Kedatangan Dika tidak diterima dengan baik oleh Bapak Ina (Tio Pakusadewo) yang curiga kedatangan Dika hanya untuk kasus cinta lama yang belum selesai dan berpikir bahwa Dika ingin menggagalkan pernikahan Ina.
Dika pun  menceritakan tujuan kedatangannya yang sebenarnya.

Kemudian kita flash back dulu melihat bagaimana masa lalu Dika (Christoffer Nelwan), dia berteman akrab dengan Bertus (Julian Liberty). Pada masa ini, Dika SMA jatuh cinta diam-diam kepada Ina. Baik Dika dan Bertus sama-sama sadar, untuk mendapatkan cewek di sekolah, mereka harus populer. Untuk itu Dika dan Bertus membuat grup detektif bersama Cindy (Sonya Pandarmawan). Mereka menyelesaikan kasus-kasus absurd yang terjadi di sekolahnya.
Semakin banyak kasus yang terselesaikan, semakin dekat Dika dengan tujuan akhirnya yaitu jadian dengan Ina. Di masa sekarang, seiring dengan Dika bercerita, seiring itu pula dia sadar ada sesuatu hal yang belum selesai dari masa lalunya. Selain itu pula dia bertanya 'benarkah cinta pertama tidak akan kemana-mana?'(http://filmdanmovie.blogspot.com/2014/04/marmut-merah-jambu-raditya-dika.html)

Jomblo Keep Smile


"Jomblo Keep Smile" ini bercerita tentang Caisar sebagai bos mafia. Tugasnya membantu seorang jomblo bernama Agus (Kemal Pahlevi) yang mendapat masalah saat mengejar wanita idamannya Angeline (Kimberly Ryder). 
Merasa bahwa Angeline cewek matrealistis, Agus berusaha melakukan pendekatan dengan membawa mobil. Agus pun nekat mengambil mobil hadiah pernikahan untuk kakaknya. Agus yang terlalu fokus mengejar cewek idamannya, akhirnya melupakan keluarga, teman, hingga mendatangkan banyak masalah.
Di tengah kesibukan persiapan pernikahan kakaknya, Agus (Kemal Palevi) jatuh cinta dengan teman SMA-nya Angeline (Kimberly Rider). Akan tetapi Jo (Reza Aditya) teman baik Agus, ragu bahwa si jomblo Agus bisa mendapatkan Angeline namun sebagai teman baik dia membantunya untuk mendapatkan Angeline.
Dengan lugunya ia meminta bantuan bos mafia se-Asia Tenggara bernama Boris (Caisar). Seperti apa bantuan Boris? Dapatkah Agus memecahkan semua masalah yang timbul akibat kesalahan sendiri?(http://savanna365photo.blogspot.com/2014/11/sinopsis-film-jomblo-keep-smile-2014.html)

Street Society


“Street Society’ mengisahkan Rio (Marcel Chandrawinata), seorang pemuda yang selalu melakukan street racing pada malam hari yang selalu disegani kemampuannya dalam membalap ,hingga membuat rivalnya dari Surabaya, Nico (Edward Gunawan) tidak terima dengan kekalahannya, dan menantang Rio kembali untuk re-match di Jakarta. Sayang, Rio menolaknya.
Di Jakarta, Rio bertemu Karina (Chelsea Islan), seorang DJ dari Berlin. Sontak, Rio tertarik untuk mendapatkan cinta Karina. Suatu malam, datanglah Yopie Dompa, anak dari mendiang Mafia bernama Frans Dompa. Terkuaklah fakta bahwa ayah Nico, Benny Wong adalah dalang atas meninggalnya ayah dari Yopie. Sontak , Yopie ingin balas dendam dengan cara menculik Karina dan memaksa Rio membantunya dengan menerima tantangan Nico.
Dengan bantuan Monty (Daniel Topan), Gde (Yogie Tan), Nanda (Kelly Tandiono) dan Bang Frankie, pemilik toko modifikasi (Ferry Salim), Rio berusaha membuat mobilnya terlihat lebih unggul ketimbang Nico.
Akankah Rio menerima tawaran Yopie ?
Siapa sebenarnya Karina ?

REVIEW :
Sebuah tontonan yang jauh melebihi ekspektasi. Abaikan pendapat orang-orang yang menganggap film ini mirip ‘Fast And Furious”. Saya pribadi menganggap menonton film ini seperti sedang menyaksikan gabungan dari “Initial D , Need For Speed : Underground,dan sedikit bumbu FTV cinta ala Indonesia”.
Untunglah, nuansa romantisme tersebut tidak terlalu mendominasi. Awi berhasil menyajikan sebuah twist plot yang shocking ,dan Chelsea Islan patut mendapat pujian atas aktingnya menjadi 2 karakter. Marcel Chandrawinata yang berperan sebagai Rio cukup berhasil menyeimbangkan sisi badboy dan goodboynya. Humor juga terlontar dari karakter Nico yang diperankan Edward Gunawan. logat Jawanya sungguh membuat penonton tertawa, dipadu dengan wajah Chinesenya. cocoklah jika ia mendapat peran Nico.
Jangan lewatkan juga mobil-mobil kelas wahid seperti Lamborghini Aventador, Mclaren, sampai Ferrari yang melintasi jalanan Jakarta hingga sampai ke jembatan Suramadu yang sungguh memukau.
Soundtrack dari ‘Nidji” berjudul “Secepat Kilat” juga cukup membuat film ini terasa cool, apalagi dengan musik  techno-electro yang up beat.
“Street Society’ merupakan sebuah terobosan baru ditengah mendominasinya genre Horror dalam perfilman Indonesia. Bukan tidak mungkin sekuelnya akan digarap , dan kita akan kembali melihat serunya mobil-mobil kelas wahid berpacu kecepatan di jalanan .
8,5/10
(http://www.moviexplorers.com/review-street-society-2014/)

Comic 8


SINOPSIS
Comic 8 adalah film komedi aksi yang bercerita tentang delapan orang dari tiga kelompok yang berbeda, merampok satu bank dalam waktu yang bersamaan. Ernest, Ari, dan Kemal mewakili The Gangster; mereka yang udah ahli dan memang hidup untuk berbuat jahat. Lalu ada Babe, Fico, dan Bintang yang tergabung dalam gerombolan The Amateurs; anak gang sebelah yang nekad nyari uang tambahan. Terakhir, duet Mongol dan Mudy memberi diri mereka label The Freaks; yang mengingatkan gua akan duo Tenacious D.

Chaos terjadi saat 3 kelompok ini berebut uang hasil rampokan dan polisi mengepung bank. Kedelapan rampok yang awalnya bersaing dan saling menjatuhkan, akhirnya bahu membahu supaya bisa keluar dari kepungan polisi.

Alur cerita Comic 8 dibuat maju mundur, namun asiknya, ga membingungkan. Seperti main puzzle, penonton diajak untuk memasang dan mengurut-ngurutkan adegan dengan panduan yang sangat jelas. Contohnya, Fajar Umbara (penulis cerita) dengan cerdik memakai tukang delivery pizza sebagai titik yang membalikkan cerita ke masa kini. Kemunculannya dibuat sedemikian seru dan comical sehingga membuat penonton ga mungkin lupa kalo orang ini berada di alur masa kini.

Plot ceritanya sendiri udah jadi pertanda cerdiknya Fajar. Akan ada momen di mana penonton dibuat ber-“Oh?”, “Eh?”, “Lho?”, “Kok?”, “Walah!”, atau ber-“Anjis! Ternyata begini!”.  Plot twisting yang berlapis dan mengejutkan jadi primadona dari Comic 8. Tentunya selain adegan menembak Nikita Mirzani dan dadanya yang bergetar.

Eh, oh, sampai di mana tadi? Oh iya, primadona.

Permainan kamera slow motion mode juga jadi primadona tersendiri di film ini. Slow motion mode saat tembak-tembakan membuat gua teringat akan film Sherlock Holmes: The Game of Shadows. Meski belum sekelas Guy Richie, permainan kamera model begini oleh sineas Indonesia udah boleh banget lah.

Props-nya pun keren. Suara dan percikan api yang dihasilan dari setiap tembakan membuat gua berkomentar, “Niat banget euy!” Suara tembakannya ya emang kayak suara tembakan yang sering kita denger di film-film luar. Ga kayak suara petasan di kondangan orang Betawi. Suaranya ya DOR-DOR-DHUAR, bukan TOR-TAR-TOR-TAR-KAWIN-KAWIIIN! Meski sesekali ada efek api dan ledakan kayak di sinetron Indosiar, itu jadi termaafkan oleh scene meledaknya brankas utama yang terlihat nyata. Epic.

Lalu gimana akting delapan stand up comedian yang jadi poros utama film ini?

Harus diakui, akting mereka ternyata oke juga. Bahkan menurut gua, ada beberapa comic yang sepertinya akan punya karier panjang di dunia layar lebar.

Ernest Prakasa, contohnya. Dengan postur ideal dan mimik yang meyakinkan, Ernest pas banget jadi gangster. Adegan yang paling keren adalah ketika Ernest menggrebek rumah bandar narkoba. Pose dan gestur tubuhnya saat menembak membuat dia terlihat kayak ga akting, tapi emang udah biasa megang senjata. He was like Cho Yun Fat without the fat. His acting was believable.

Ditambah lagi, di tengah kurangnya dunia perfilman kita akan aktor berparas Cina, sepertinya Ernest bisa memanjangkan langkahnya dan menggantikan posisi Delon di acara infotainment setiap Natal dan Imlek. Layak kita tunggu film Ernest berikutnya… dan kemunculannya di infotainment.

Selain Ernest, yang layak dapat sorotan lagi adalah Babe Cabita. Sumpah nih orang kocak banget. Logat Batak dan mukanya yang galak-tapi-dungu berhasil jadi pemantik tawa. Seinget gua, adegan yang melibatkan Babe hampir selalu berhasil menuai tawa dari mayoritas penonton di dalam bioskop. Bukan senyum lho, tapi tawa. Mulai dari ngaku-ngaku jadi pengisi acara sambil joget-joget di pohon, ngambil handphone yang jatuh lalu selfie, bahkan ngangkat telpon dari polisi aja kocak banget. Two thumbs up for Babe!

Selain bertaburan stand up comedian, Comic 8 juga bertaburan selebritas yang cameo di sepanjang film. Biasanya, cameo ya cameo. Numpang lewat, ga penting, hanya sebatas menuh-menuhin nama orang terkenal di poster film dan credit title. Tapi di Comic 8, semua cameo-nya bener-bener kepake. Entah emang terkait alur cerita atau untuk keperluan jokes.

Salah satu kekurangan Comic 8 adalah beberapa adegan yang gua rasa kurang efektif dan kadang membuat bingung atau dragging. Contohnya adegan pertama saat film baru mulai. Selain bingung mencocokkan di mana pasnya puzzle ini dengan alur cerita secara keseluruhan, adegan ini bikin bit rampok-minta-apa jadi terasa garing saat diputar kedua kalinya di set perampokan bank.


Overall, dari segi alur cerita dan plot twisting-nya, Comic 8 mengingatkan gua akan Ocean Eleven, Now You See Me, 21, dan film-film sejenis. Tapi di satu sisi, Comic 8 juga mengingatkan gua akan film-film Stephen Chow dengan jokes-nya yang epic dan comical banget.

Mungkin kalo Ocean Eleven kawin sama Kung Fu Hustle, anaknya ya si Comic 8 ini. Film yang cerdik, seru, dan comical. Atau jika dirangkum ke dalam satu kata yang lebih padat, Comic 8 ini film yang… gokil.
(http://saputraroy.com/2014/02/06/review-comic-8/)

The Raid 2: Berandal



SINOPSIS
Film ini dimulai dengan adegan di kebun tebu yang luas nan hijau dengan latar langit yang mendung sementara sekelompok orang menggali kubur dan seorang yang ditutupi kepalanya dibuka kemudian ditembak tepat di kepala kemudian dikubur. Orang yang ditembak di kepala ini adalah Andi (Donny Alamsyah) –kakak dari Rama di The Raid 2011. Ini merupakan lanjutan cerita dari cerita sebelumnya dimana kemenangan Rama (Iko Uwais) dalam operasi gembong narkoba di sebuah apartment kumuh di Jakarta merupakan kemenangan yang belum seberapa karena Rama dihadapkan pada kenyataan bahwa ada permainan yang lebih besar dari yang dia duga, dimana Rama harus berhadapan dengan geng-geng bisnis kotor yang memiliki cengkraman sampai pada oknum pejabat negara dan polisi yang berafiliasi. Geng yang mengancam nyawa anak dan istrinya serta dirinya. Untuk membongkar kejahatan besar ini Rama tidak punya pilihan lain kecuali melakoni misi penyamaran sebagai Yuda dan membuang semua indentitasnya. 


Adegan yang menggelikan adalah iklan smartfren di film ini dimana tablet smartfern yang digunakan Rama untuk memata-matai ucok dan si Bejo canggih beuud webcamenya heheh. Handphone yang di pake Rama juga smartfren tapi ya lumrah saja jika iklan disisipkan dalam film ini toh tidak mengurangi kualitas film ya itung-itung brand lokal bisa terlihat di luar. Kalau di film the raid preskuel tidak begitu tampak aroma Indonesianya kecuali bahasa. Di film The Raid 2 ini reog dan kuda lumping ikut unjuk gigi, TransJakarta juga mejadi pesan bahwa film ini syuting di Jakarta.

Film ini Juga memiliki tingkat kesadisan yang lumayan dimana cutter digunakan untuk menggorok orang satu persatu. Pisau untuk menyayat, palu yang ditacapkkan di kepala. Senapan yang menembak kepala sampe hancur. Membuat film ini semakin TOP. Oke sekian review dari saya semoga dapat menjadi masukan dan resensi untuk anda yang belum menonton.
(http://benagustian.blogspot.com/2014/03/review-raid-2-brandal-sinopsis.html)

Ketika Tuhan Jatuh Cinta



Sinopsis
Fikri yang dibesarkan oleh keluarga sederhana, kemudian tumbuh menjadi sosok yang saleh dan mandiri. Selain kuliah, ia juga membantu ayah-ibunya membuat kue dan gorengan serta membuat bingkai dan hiasan pasir untuk dititipkan di beberapa galeri, salah satunya adalah galeri Koh Acong yang memiliki anak cantik, Lidya.

Fikri menjadi idaman banyak wanita di kampusnya. Tapi, hanya ada satu gadis yang membekas di hati Fikri: Leni. Sebenarnya Leni menyukai Fikri, namun selayaknya gadis muslimah yang terjaga perilakunya, ia hanya menyimpan rapi perasaannya pada Fikri. Bahkan Irul, sahabat Fikri yang tampan, kaya dan terkenal playboy di kampus pun ditolak Leni. Setelah wisuda dan harus berpisah jauh, barulah perasaan cinta Leni dan Fikri saling terungkap. Namun, ketika keduanya mempersiapkan rencana pinangan, Leni dan Fikri harus menerima kenyataan bahwa Leni akan dijodohkan dengan lelaki lain. Fikri dengan tulus mengingatkan Leni agar patuh pada orang tuanya.

Sementara itu Irul jatuh hati pada Lidya dan mulai berpacaran dengan Lidya. Lidya hamil dan Irul lari dari tanggung jawab. Fikri terus mengingatkan sahabatnya dan menguatkan Lidya.

Cobaan lagi: Humaira adik Fikri yang patah hati, menjadi pribadi yang pemberontak. Dari sosok gadis lembut dan sangat solihah ia menjadi gadis "badung" dan bebas. Bahkan melepas jilbab dan menjadi gadis malam. Fikri berusaha menyadarkan Humaira. Ujian kembali datang ketika ayah ibu Fikri meninggal dunia.

Ternyata Leni tidak bahagia dengan pernikahannya. Lidya yang sangat mengagumi Fikri semakin putus asa. Kemudian Shira hadir. Semula Shira ini hendak dijodohkan dengan Irul, namun perjodohan itu gagal. Pada suatu pertemuan Fikri diam-diam jatuh hati pada Shira. Fikri menyadari dirinya yang tak sebanding dengan keluarga Shira yang berkecukupan. Ternyata diam-diam Shira memendam cinta pada Fikri.(http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-k021-14-992424_ketika-tuhan-jatuh-cinta)



PENDAPAT
Tokoh-tokoh perempuan dalam film ini mempunyai sikap berbeda terhadap kehidupan. Shira menurut saya perempuan modern, terdidik, mandiri dan bisa menentukan sendiri dengan siapa dia menikah. Hal ini bertolak belakang dengan Leni. Dia bisa memberontak dengan caranya , tetapi tidak bisa melawan sistem. Sementara Lidya adalah perempuan yang hanya bisa pasrah terhadap nasibnya. Dia seorang perempuan yang peduli terhadap orang terdekatnya (seperti ayahnya dan Fikri), namun sebetulnya rapuh.

Untuk jajaran akting, Reza Rahardian bermain memukau sebagai Fikri. Sekali lagi dia menunjukkan kepiawaian di dunai seni peran. Saya memberikan apresisasi pada Enzy Storia yang keluar dari kharakter ABG Ababil menjadi perempuan dewasa, yang saya sendiri terpukau pada perilakunya yang smart dan dewasa. Lainnya ialah pendatang baru Tamara Tyasmara sebagai gadis desa yang bersemangat menjadi pekerja keras di kota. Dia harus memilih tunduk pada tata nilai keluarganya, tunduk pada realitas atau kompromi alias “bermain di dua perahu”.

Setting sosial tepat. Saya merasakan ketika menonton film ini masyarakat Jawa Barat kontemporer (dalam hal ini Priangan Selatan) yang sedang gelisah. Di satu sisi nilai-nilai religi yang mereka anut ketat berhadapan dengan kenyataan bahwa nilai-nilai western sudah merasuk jauh ke pedalaman. Film ini digarap dengan apik untuk setting sosialnya pemandangan ikan asin yang dijemur dan panorama pantai, amboi indahnya. Bahasa Sunda paar penuturnya terdengar fasih dan tidak kaku.(http://hiburan.kompasiana.com/film/2014/06/10/review-ketika-tuhan-jatuh-cinta-film-religi-dengan-kharakter-realistis-665004.html)

Killers



SINOPSIS
Bayu (Oka Antara) adalah seorang jurnalis yang hidupnya sedang dilanda kesengsaraan. Sementara Nomura (Kazuki Kitamura) adalah seorang eksekutif muda merangkap serial killer yang gemar membunuh, lalu menampilkan hasil rekaman pembunuhan yang dilakukannya ke internet. Bayu, yang melihat video buatan Nomura kemudian mulai membuat video serupa dan mengunggahnya ke internet. Ikatan yang mematikan pun memulai terjalin di antara keduanya.



PENDAPAT
Setelah 4 tahun yang lalu Mo Brothers membuat saya terpukau lewat RUMAH DARA, kini mereka lagi-lagi membuat saya menganga sambil menggelinjang kesenangan seperti wanita yang di 'fingering' saat saya menonton KILLERS. Bukannya berlebihan, tapi Killers benar-benar memenuhi dan memuaskan ekspektasi saya selama 4 bulan belakangan ini, ciyus.

Alur ceritanya digarap secara total dan jauh lebih dewasa ketimbang karya mereka sebelumnya. Cerita Bayu dan Nomura digarap secara well made, sehingga sub-plot yang ada di Killers tidak terasa dragging dan maksa. Pace ceritanya berjalan lambat, setiap detiknya memang tidak diisi dengan adegan yang membuat penontonnya sport jantung seperti film-film Mo Brothers sebelumnya (Rumah Dara, L for Libido, Safe Haven), adegan kekerasannya juga memang tidak sekeras Rumah Dara, tapi percayalah, semakin anda terhanyut dalam penceritaanya, Killers akan membuat anda menggila saat ia menampakan wajah aslinya.
Adegan actionnya benar-benar fantastis. Bila aksi pembunuhan yang dilakukan Nomura itu rapi dan dingin, maka aksi pembunuhan yang dilakukan Bayu itu sangatlah rusuh dan gila. Adegan konfrontasi Bayu dengan supir taksi di tengah lapangan kosong membuat saya tepuk tangan kayak monyet. Saking indahnya umpatan-umpatan seperti "MATI LU ANJING, MATI LU ANJING!!" atau "BANGSAAAAAAAAAT" yang diteriakan para pemainnya di dalam taksi, umpatan-umpatan itu akhirnya terdengar persis seperti indahnya melodi yang dihasilkan Bohemian Rhapsody-nya Queen atau Paranoid Android-nya Radiohead.  Saya yang sudah terbiasa memaki dengan bahasa inggris akhirnya jadi rindu mengumpat dalam bahasa Indonesia. Oh, dan adegan hotel? dude, it's fucking awesome, lewat adegan itu, Mo Brothers berhasil membuat penonton merasa tersudut dan ketakutan seperti apa yang dilakukan Harakiri-nya Masaki Kobayashi 52 tahun silam.

Akting? kudos untuk semua pemainnya, terlebih lagi untuk Oka Antara yang sudah memberikan performanya tergilanya. Bila Oka Antara selalu membuat saya mengantuk lewat FTV pantai yang sering tayang siang-siang di S-SHIT-TV. Maka lewat Killers, Oka Antara menunjukan totalitas aktingnya yang memukau, dan membuat nama Oka Antara layak disejajarkan dengan aktor berbakat Indonesia yang lainnya. Meskipun terkadang saya ingin memotong sebagian sub-plot yang dihadirkan dalam film ini (karena ingin cepat-cepat melihat adegan actionnya), tapi lewat sub-plot yang dihadirkan, karakter Bayu dan Nomura tereksplor dan terdevelop dengan baik, sehingga meskipun sebagian penonton dibuat jenuh karena sub-plotnya, pada akhirnya penonton akan peduli dengan nasib kedua karakter utamanya, serusak apapun moral dan sifatnya.

Yang membuat Killers menjadi karya sinematis yang hebat bukan hanya karena teknik, action, atau akting belaka, tapi kritik sosial yang Mo Brothers tempatkan di akhir cerita. SPOILER ALERT, READ AT YOUR OWN RISK, YOU'VE BEEN WARNED: Saya sangat menyukai bagaimana cara Mo Brothers menyamarkan kondisi masyarakat Indonesia sekarang lewat karakter bocah HP. Ketimbang menolong orang yang terkena musibah (ditabrak motor misalnya), banyak dari kita malah lebih memilih untuk menyaksikan kejadian itu saja, dan tak melakukan perbuatan apapun untuk menolong sang korban. Kita lebih memilih untuk menyaksikan, dan malah mungkin menikmati penderitaan orang lain. Jadi apa yang membedakan kita dengan karakter Bayu dan Nomura? tidak ada, toh kita semua memang menikmati kekerasan dan penderitaan yang dirasakan orang lain, seperti kalimat tagline yang ada di posternya: "Inside us lives a killer." Overall, film ini juara.

OH TUHAAAAAAN, SAYA MASIH BELUM BISA PERCAYA DENGAN APA YANG BARU SAJA SAYA RASAKAN DI SILVER SCREEN BARUSAN. DEMI TUHAN, KILLERS BENAR-BENAR MEMBUAT SAYA MENGGILA SETELAH FILMNYA BERAKHIR, GYAAAAA!!! 
(http://kritikusfilmgadungan.blogspot.com/2014/02/kilers-2014-review.html)

Cin(T)a


SINOPSIS
Cin(T)a merupakan sebuah film indie,  berlatar kehidupan mahasiswa di Bandung pada tahun 2000 dimana kerukunan beragama saat itu diuji dalam hari raya Idul Fitri dan Natal yang dirayakan hampir bersamaan. Berlatar masalah keyakinan inilah, dalam film ini disuguhkan banyak sekali bukti nyata perbedaan-perbedaan agama lengkap dengan pemaparan diskusi yang dilakukan oleh Cina dan Anisa dalam memandang tuhan mereka masing-masing akan cinta kepada-Nya secara terbuka, berani dan frontal.

Dalam film ini juga disuguhkan cuplikan interview pada beberapa pasangan beda keyakinan, baik sahabat, pasangan yang baru bepacaran, menikah beberapa bulan, dan bahkan yang sudah berpuluh-puluh tahun dengan anak cucu mereka mengenai pandangan mereka mengenai cinta, keyakinan dan Tuhan masing-masing yang mereka sebut dengan sebutan berbeda namun menyatukan mereka. Cuplikan interview ini menurut saya mampu membuat nilai lebih pada film yang memang bisa dikatakan mengangkat tema cukup berat dan langka ini, sebagai contoh, referensi dan seolah menambah teka-teki untuk kita menebak jalan cerita dan penyelesaian film.

Mengangkat tema serius ternyata tidak membuat film ini menjadi berat dan susah untuk dikonsumsi, melainkan mengajak kita untuk masuk dan berada dalam situasi yang diciptakan dalam film dengan keyakinan yang kita anut dan menikmati setiap scene, dialog, dan masalah yang ditimbulkan. Apalagi didukung dengan penciptaan karakter Cina yang optimis namun kerap memperlihatkan sisi humorisnya sehingga mampu mengundang tawa.

Sisi musical film ini pada pengisian beberapa lagu soundtrack oleh Homogenic dan music scoring sebenarnya cukup mampu membuat film ini berjalan beriringan sesuai dengan alur, jalan cerita dan suasana yang ditampilkan dalam setiap scnenenya, terkesan romantis dan mampu mengoyak suasana hati penonton. Namun sayangnya, segi teknik penataan suara sepertinya masih butuh belajar lagi untuk menyuguhkan kualitas sound yang lebih baik. Hal ini terlihat dari beberapa dialog yang kurang bisa terdengar jelas dan malah terganggu oleh suara-suara bising sekitar.

Secara keseluruhan, cin(T)a berhasil memberikan suguhan menarik, sangat menghibur yang sarat penuh makna dan mampu membuka mata dan pikiran kita untuk tidak serta merta tutup mata dan angkat tangan mengenai perbedaan yang kerap memicu konflik di Negara ini. Selain itu, film ini juga mampu memberikan sebuah cerita cinta yang lain dan jarang untuk ditampilkan, dengan begitu rumitnya masalah dan konflik yang timbul namun tetap tidak meninggalkan sisi romatis membuat film yang meraih Piala Citra FFI 2009 untuk penulisan naskah terbaik ini benar-benar akan sangat sayang untuk dilewatkan. (https://ardnas20.wordpress.com/2010/08/09/cinta-indonesia2009/)

Pocong Rumah Angker



SINOPSIS
Zaki, Joana dan Reni mengunjungi rumah kosong yang selama ini dikenal sebagai tempat pembuangan dan penguburan mayat dalam kasus kriminal.

Kedatangan Joana, Zaki, dan Reni untuk mendokumentasikan situasi bangunan dengan handycam. Joana tanpa sengaja menemukan payung usang dan mengembangkannya. 

Zaki percaya hal tersebut akan mengundang makhluk-makhluk gaib. Semenjak itu Zaki, Joana dan Debby kerap diganggu oleh penampakkan berupa sosok wanita penari Jaipong dan pocong. 

Mereka menjalani hari-hari dengan perasaan was-was. Pada suatu ketika Joana dan Debby bertemu seorang kakek misterius di rumah angker itu. 

Si kakek memperingatkan Debby dan Joana bahwa arwah penari Jaipong (yang kadang menjelma jadi pocong) itu akan berhenti menggentayangi setelah mendapatkan barang berharga yang hilang dari tubuhnya

Santet Kuntilanak


SINOPSIS
Maya dan Lila adalah dua kakak adik yang memiliki latar belakang berbeda. Maya sang adik, dikenal percaya dengan hal-hal yang berbau mistis. Lain halnya dengan Lila yang dikenal lebih percaya terhadap agama daripada hal-hal mistis seperti itu. Suatu hari, Lila diajak bersama Robert dan teman-temannya untuk berlibur ke luar kota. Ternyata disana, Lila dibuat meninggal secara mengenaskan karena tindakan dari Robert dan kawan-kawannya. Maya pun resah dan gelisah serta curiga kalau kakaknya itu disantet orang. Beberapa teman Maya pun akhirnya ikut membantu pencarian hilangnya Lila.

Akhirnya Koya Pagayo kembali dengan film horror setelah menghilang sibuk membuat 2 film dengan genre drama romantis yang menggunakkan nama samarannya Nayato. Sebenarnya Santet Kuntilanak cukup baik di sisi musiknya loh, ya setidaknya pas lah memberikan alunan di tempatnya dan paling penting gak buat sakit kuping ketika menonton film ini. 

Pocong Mandi Goyang Pinggul



SINOPSIS
Film POCONG MANDI GOYANG PINGGUL adalah film Indonesia yang diproduksi oleh K2K Production dan dibintangi oleh bintang film asal Amerika Serikat, Sasha Grey. 

Dari judulnya saja sudah bisa ditebak bahwa Film POCONG MANDI GOYANG PINGGUL adalah film horor yang dengan adegan panas.

Pocong Kamar Sebelah


SINOPSIS
Kisah berawal ketika Felisa, seorang mahasiswi mendapatkan tempat kos baru. Dan ternyata tempat kos yang baru ia tempati ini cukup angker. Felisa mendapatkan kamar tepat di sebelah kamar kos yang cukup angker, karena tiga tahun kamar itu tidak pernah dibuka. Bahkan sang pemilik kos, Ibu Ratmi, Felisa dilarang membuka kamar sebelahnya itu.

Selain Felisa, di rumah itu tinggal Randy, cucu Ibu Ratmi dan Marvin penghuni kos lainnya. Randy ternyata menaruh hati pada Felisa. Sayangnya Felisa lebih tertarik pada Marvin.

Kejanggalan mulai dirasakan oleh Felisa ketika jam 12 tengah malam. Ia mulai mendengar jeritan seorang perempuan yang menyayat hari dari kamar sebelahnya. Karena penasaran, akhirnya Felisa pun melanggar nasehat Ibu Ratmi, ia nekat membuka kamar itu.

Semenjak saat itu, jeritan-jeritan di tengah malam buta tak pernah didengar oleh Felisa. Tapi Felisa dihantui oleh suara-suara aneh. Tak hanya menghantui Felisa, namun suara-suara aneh itu juga didengar oleh Randy dan ibunya.

Akhirnya, mereka menemui seorang dukun, Mbah Jimat. Menurut dukun ini, suara-suara aneh muncul karena kamar tersebut sudah dibuka, sehingga roh jahat yang sebelumnya tinggal di kamar itu berkeliaran. 
Felisa yang ketakutan bermaksud untuk pindah kos. Namun ternyata tak semudah itu, jika ia nekat pindah kos, maka yang akan jadi korban berikutnya adalah dirinya. Satu-satunya cara adalah membuka tali pocong seseorang yang telah dikubur di belakang kamar tersebut.

Sementara itu, teror masih terus berlangsung. Ibu Ratmi dan Randy pun jadi korbannya. Dengan terpaksa dan perasaan takut, Felisa berusaha membuka tali pocong tersebut.

Tampaknya film horor dengan tema utama pocong masih menjadi target para pembuat film di negeri ini. Kadang dengan jalan cerita yang hampir mirip, namun karena sudah terlanjur digemari pecinta film lokal, maka film jenis ini pun semakin menjamur.

Satu lagi film setan ditawarkan, POCONG KAMAR SEBELAH. Dengan pemain utama bintang seksi Rahma Azhari berpasangan dengan Andrew Ralph dan Reza Pahlevi

Paku Kuntilanak




SINOPSIS
Trio pemburu mayat (Sukun, Obeng, dan Odjie) beraksi kembali. Kali ini mereka mencari Kuntilanak yang menjelma menjadi manusia kembali setelah paku di kepalanya, dilepas secara tidak sengaja oleh atasan mereka, Pak Joko. Pak Joko diteror terus menerus oleh ibunya, karena belum juga menikah diusianya yang sudah semakin tua. Pak Joko yang berniat mendekati Mona malah ditolak mentah-mentah. Hingga akhirnya muncul seorang perempuan cantik bernama Kunti, yang tak lain tak bukan adalah sosok Kuntilanak yang dicari-cari oleh Trio Pemburu mayat. 
(http://www.indonesianfilmcenter.com/film/paku-kuntilanak.html)

The Maling Kuburans




SINOPSIS
Niko (Indra Birowo) dan Imen (Yton Club 80's) terpaksa menjadi maling kuburan dadakan untuk menebus warisan kedua ayah mereka, yang ternyata juga berprofesi sebagai maling kuburan. Usaha mereka untuk menjadi maling kuburan, tidaklah mudah. Apalagi ketika mereka berhasil mendapatkan peta lokasi kuburan yang justru telah berubah menjadi bangunan asrama kesusteran putri.

Tali Pocong Perawan



SINOPSIS
Nino (Ramon Y Tungka) adalah cowok introvert yang tidak bergaul. Kesehariannya hanya berkutat di kamar sambil surfing internet. Nino sangat mencintai Virnie (Dewi Perssik),
pacar Aldo (Ibnu Jamil), adiknya sendiri.
Nino mencari cara untuk bisa mendapatkan Virnie. Nino mendapat cara dari sebuah halaman di internet yang mewajibkan orang mengambil tali pocong perawan yang meninggal sebelum empat puluh hari. Nino mendapatkan mayat tersebut dan berhasil mengambil tali pocongnya.
Nino memasukkan air perasan tali pocong ke minuman Virnie. Ternyata Virnie tidak berubah mencintai Nino, karena Virnie tidak meminum air pemberian Nino. Merasa tidak berhasil, Nino membakar tali pocong tersebut. Akibatnya, Nino diteror pocong, hingga ditemukan tewas gantung diri. Pocong itu kemudian meneror Virnie dan Aldo. Kemudian Aldo mendapatkan petunjuk, bahwa hantu pocong tersebut adalah sahabat Aldo sejak kecil yang bunuh diri dengan menggantung diri di kampus, karena kecewa Aldo pacaran dengan Virnie. Padahal ia menganggap Aldo adalah pacarnya. Aldo memutuskan untuk bunuh diri agar tidak ada teror lagi. Melihat Aldo hendak bunuh diri, sang hantu menghilang. Virnie menyelamatkan Aldo dari rencana bunuh diri.
(http://zigout.blogspot.com/2012/12/tali-pocong-perawan.html)

Soekarno: Indonesia Merdeka



film ini patut diacungi jempol. Karena di masa Orde Baru, hampir mustahil film ini dibuat. Ini karena sosok Bung Karno yang memang kontroversial. Ia dipuja, tapi juga dibenci oleh sebagian kelompok masyarakat, terutama pendukung Orde Baru. Secara apik film ini mampu masuk ke penuturan sejarah tanpa perlu memihak. Salut!

Catatan: Resensi ini dimuat juga di http://resensi-bhayu.com.

Pupus


SINOPSIS
Cindy (Donita) datang dari Lampung untuk kuliah di Jakarta, tepatnya di Universitas Trisakti dan mengambil jurusan arsitektur. Pada masa orientasi, Eros (Ichsan Akbar) dan Sinta, seniornya meminta Cindy -yang hari itu berulangtahun- untuk membawa satu senior cowok yang kebetulan juga tengah merayakan hari jadi. Senior itu bernama Pandji (Marcell Chandrawinata), seseorang yang tidak menyukai perayaan ulang tahun. Cindy menyukai Pandji. Di satu sisi Pandji juga menyukai Cindy. Di sisi yang lain lagi ada senior bernama Hugo (Arthur Brotolaras) yang juga menaruh perhatian pada Cindy. Kisah bergulir. Cerita Cindy dan Pandji menjadi kian rumit. Cindy benar-benar jatuh hati pada Pandji, namun lelaki itu benar-benar menguji kesabarannya, menguji cintanya.

PENDAPAT
Dari segi visual, film ini cukup cantik. Nuansa Korea terlihat sekali di sini. Mulai dari set, artistik, bahkan hingga karakterisasi yang dibuat (terlalu) komikal dan juga (terlalu) melankolis. Tone warna film ini di beberapa bagian terasa terlalu menyilaukan mata, terlalu terang dan kurang ‘hangat’.

Donita dan Marcell Chandrawinata sebagai pemeran utama boleh dibilang cukup berhasil memainkan perannya dan menghadirkan suasana Korea yang berusaha dibangun. Keduanya tidak istimewa, tetapi juga tidak buruk. Tapi yang patut dicatat adalah bahwa chemistry antara Donita dan Marcell Chandrawinata tidak terbangun dengan baik, padahal keduanya adalah kunci film ini. Pemeran pendukung pun tidak berhasil membangun film ini menjadi lebih istimewa.


Pulau Hantu 3


SINOPSIS
Cerita dalam film ini kembali berputar pada Resor Pulau Madara yang kembali dibuka oleh pemilik baru, Patigana, dengan Nero, Kimo, Octa, dan Gaby sebagai pegawai baru resor tersebut. Kejadian aneh mulai dirasakan Nero sesaat setelah sampai di pulau, Ia yang merasa mengenali tempat itu lalu mendapat bisikan-bisikan yang memanggil namanya. Namun ketika sadar bahwa pulau tempat kerja barunya ini adalah juga pulau tempat teman-temannya terbunuh beberapa tahun sebelumnya, Nero sudah terhanyut akan kehadiran tamu-tamu resor, bahkan sang manajer resor, Monica, yang begitu cantik nan seksi serta kerap memakai bikini dan pakaian minim setiap harinya. Hingga sampai suatu saat kesenangannya bersama Kimo menikmati pengalaman ‘luar biasa’ itu terganggu oleh hilangnya satu per satu penghuni resor.

PENDAPAT
Saya memang belum pernah sama sekali menyaksikan dua film pendahulu franchise ini yang membuat saya benar-benar buta akan korelasi ketiganya. Namun berbekal pada apa yang dikatakan sang sutradara bahwa menyaksikan Pulau Hantu 3 tanpa pernah menonton prekuelnya tidak akan banyak berpengaruh pada tingkat pemahaman pada cerita, dengan begitu semangat saya memutuskan untuk tetap menontonnya. Dan ternyata memang benar, tidak ada suatu keharusan untuk mengetahui kisah awal Pulau Hantu, karena memang sesungguhnya plot cerita dalam film ketiga ini bukanlah sesuatu hal yang penting.


Producer: Raam Punjabi

Director: Jose Purnomo

Writer: Jose Purnomo

Casts: Sinta Bachir, Abdurrahman ‘Adul’ Arif, Jenny Cortez, Boy Hamzah, Ricky Adi Putra, Reynavenzka, Laras Monca, Ayu Permatasari, Johanna, Amelia Alfiani, Grace, Fara Dhiba, Kadir.



Milli Dan Nathan


SINOPSIS
Milli (Olivia Lubis Jensen) dan Nathan (Chris Laurent) awalnya adalah seorang teman sekelas di sebuah sekolah menengah tingkat atas di kota Bandung. Milli adalah seorang gadis ceria yang mungkin adalah tipe manusia yang hanya memikirkan bagaimana cara untuk menikmati hidupnya di hari tersebut. Sebaliknya, Nathan adalah seorang pemuda serius dan giat belajar yang, tentu saja, dengan pola pemikiran dewasa akan masa depan yang akan ia hadapi. Opposite attracts, keduanya secara perlahan mulai tertarik satu sama lain, dan akhirnya memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.

Sayangnya, ketika masa SMA berakhir, dengan alasan untuk berkonsentrasi terhadap masa kuliahnya di Jakarta, Nathan kemudian memutuskan hubungan kasihnya dengan Milli. Walau mencoba tegar, Milli jelas-jelas merasa hancur karenanya. Pun begitu, keduanya masih menjalin komunikasi yang baik dengan Milli tetap memendam rasa cintanya pada Nathan. Nasib kemudian membawa Nathan menjadi seorang wisudawan dengan tingkat indeks prestasi tertinggi di universitasnya. Sementara itu, Milli malah menjadi seorang penulis dengan novel yang menjadi debut penulisannya terjual laris di pasaran serta hubungan yang mulai terjalin serius dengan seoraang pria tampan bernama Oscar (Fendy Chow). Entah angin apa yang kemudian membawa Nathan kembali ke Bandung untuk mengunjungi Milli dan menyatakan bahwa ia ingin kembali lagi kepada gadis itu. Kini, Milli dirundung kebimbangan atas pernyataan Nathan. Di satu sisi, Milli masih memendam perasaan yang kuat pada Nathan. Namun di sisi lain, Milli tentu saja tidak akan mau begitu mudah memaafkan perbuatan Nathan yang telah begitu saja meninggalkannya di masa lalu.


PENDAPAT
Potensi yang awalnya dimiliki oleh Milli & Nathan untuk menjadi sebuah film drama romansa remaja dengan jalan cerita yang sederhana dan familiar namun mampu tampil memikat harus diakui sedikit tercoreng dengan pemilihan ending kisah yang dipilihkan oleh Titien Wattimena untuk film ini. Terkesan terburu-buru dan ditampilkan dengan begitu klise. Untungnya, momen-momen manis yang telah tampil di durasi film ini sebelumnya setidaknya masih mampu memberikan kesan yang cukup dalam kepada para penonton film ini, khususnya kesan atas penampilan Olivia Lubis Jensen yang tampil dengan daya tarik memikat. Milli & Nathan jelas bukanlah sebuah karya produksi yang istimewa. Walau begitu, sebagai sebuah drama romansa remaja, Milli & Nathan akan mampu tampil cemerlang bagi para pangsa pasar penggemar film tersebut.



Pokun Roxy


SINOPSIS
Cerita berawal saat Talib yang kebelet buang air kecil, karena tak kuat menahan akhirnya dia kencing di bawah pohon sengon. Tiba-tiba sehelai kain putih mengenai wajahnya. Saat mendongakkan kepalanya, dia melihat dua makhluk halus sedang nongkrong di atas pohon yaitu pocong dan kuntilanak. Talib pun ketakutan dan berteriak histeris dan menyebabkan seluruh warga kampung datang berduyun-duyun. Talib yang masih nampak shock dibopong pulang ke rumah oleh Jond, hansip kampung. Ditemani oleh Mastur, Bedul (Bobby Maulana), Acong (Augie Fantinus), dan Jupe (Nikita Mirzani), Mak Otak, ibu Talib hanya pasrah saat melihat anaknya tak sadarkan diri. Acong, Bedul, dan Jupe pun memiliki ide dari apa yang dialami Talib. Sudah berbulan-bulan, toko handphone ayah Acong selalu sepi, Acong pun meminta dua sobatnya tersebut untuk menyamar jadi pocong dan kuntilanak yang nangkring di pohon dan memotretnya. Berita foto pocong dan kuntilanak Roxy pun menyebar kemana-mana. Dan hanya handphone yang dijual ayah Acong lah yang bisa memotret makhlus halus tersebut. Cerita Pokun Roxy pun menarik perhatian wartawan Tabloid Rahasia. Mereka mengirim dua reporter, Vina (Jenny Cortez) dan seorang fotografer, Bondy untuk mencari informasi kebenaran berita tersebut. Vina bertemu nara sumber dan Bondy asyik dengan kakak Talib yang seksi. Menurut dukun, Talib telah mengganggu keberadaan makhlus halus tersebut. Untuk menyembuhkan Talib dan mengusir makhlus tersebut, harus diadakan upacara pengorbanan. Namun makhluk halus di kampung mereka tidak hanya pocong dan kuntilanak. Ada roh gentayangan yang membuat takut warga.


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. FILM AND GAMES "KUBU RAYET" - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger