SINOPSIS
Melanjutkan akhir cerita sebelumnya, setelah mengalami kekalahan dan cedera lutut dari pertarungan terakhir, Boyka kini setiap harinya hanya bekerja sebagai pembersih toilet di penjara. Tak lama kemudian, terdengar kabar bahwa pertarungan yang melibatkan para petarung-petarung terbaik dari segala penjara yang berbeda-beda akan digelar kembali. Mengetahui hal tersebut, jiwa petarung Boyka seakan-akan kembali terpanggil. Apalagi hadiah yang ditawarkan untuk pemenangnya sangatlah menggiurkan, yaitu kebebasan. Boyka harus berjuang kembali mengangkat martabat dan harga dirinya, dan mendapatkan kebebasan yang selama ini diinginkannya.
Perlu diingat, Undisputed III: Redemption adalah film kelas B. Seperti kebanyakan film-film kelas B pada umumnya, film ini juga tidak menawarkan kualitas cerita yang berbobot dan akting papan atas. Namun film ini cukup memberikan ‘kekuatan’ tersendiri dari alur cerita yang dihadirkan. Dari segi cerita memang biasa saja, tapi dieksekusi dengan cukup solid. Bahkan untuk ukuran sebuah film kelas B, film ini memberikan pendalaman karakter yang terbilang cukup baik. Karakter Boyka dieksplor lebih dalam lagi, dan memiliki hubungan interaksi dengan karakter-karakter lainnya. Jauh lebih baik dibandingkan peran Boyka sebelumnya. Tapi apakah cerita semata yang coba ditawarkan dalam sebuah film laga? Tentu tidak. ‘Bintang utama’ dari film ini tentunya adalah pertarungan demi pertarungan yang disuguhkan tanpa trik kamera, sling/wire, ataupun efek-efek CGI. Semua adegan aksi dilakukan murni oleh para aktor-aktor bela diri yang ada. Tentu juga tidak menarik apabila tanpa didukung dengan koreografi-koreografi yang apik. Maka nama Larnell Stovall yang sudah tidak asing lagi dengan film-film laga, hadir sebagai penata laga sekaligus stunt coordinator. Nama-nama aktor pentolan bela diri seperti Lateef Crowder (Tom Yum Goong), dan Marko Zaror (Kiltro) juga ikut mendukung demi menghadirkan pertarungan-pertarungan yang brutal dengan kualitas teratas dan menghibur. Segala gerakan-gerakan akrobatik maupun ground-fighting ditampilkan dengan sangat alami, tanpa mengurangi tingkat kelogisan yang memberikan kesan absurd.
Florentine nampaknya tahu benar selera para pecandu aksi laga dan mengerti kemampuan masing-masing aktor. Sangat terlihat bahwa Florentine memberikan kebebasan untuk para aktor agar dapat memberikan kemampuan terbaik mereka. Dari jaminan kepuasan yang diberikan, sekali lagi Isaac Florentine membuktikan bahwa ia adalah salah satu yang terbaik dalam aksi-aksi laga.
Perlu diingat, Undisputed III: Redemption adalah film kelas B. Seperti kebanyakan film-film kelas B pada umumnya, film ini juga tidak menawarkan kualitas cerita yang berbobot dan akting papan atas. Namun film ini cukup memberikan ‘kekuatan’ tersendiri dari alur cerita yang dihadirkan. Dari segi cerita memang biasa saja, tapi dieksekusi dengan cukup solid. Bahkan untuk ukuran sebuah film kelas B, film ini memberikan pendalaman karakter yang terbilang cukup baik. Karakter Boyka dieksplor lebih dalam lagi, dan memiliki hubungan interaksi dengan karakter-karakter lainnya. Jauh lebih baik dibandingkan peran Boyka sebelumnya. Tapi apakah cerita semata yang coba ditawarkan dalam sebuah film laga? Tentu tidak. ‘Bintang utama’ dari film ini tentunya adalah pertarungan demi pertarungan yang disuguhkan tanpa trik kamera, sling/wire, ataupun efek-efek CGI. Semua adegan aksi dilakukan murni oleh para aktor-aktor bela diri yang ada. Tentu juga tidak menarik apabila tanpa didukung dengan koreografi-koreografi yang apik. Maka nama Larnell Stovall yang sudah tidak asing lagi dengan film-film laga, hadir sebagai penata laga sekaligus stunt coordinator. Nama-nama aktor pentolan bela diri seperti Lateef Crowder (Tom Yum Goong), dan Marko Zaror (Kiltro) juga ikut mendukung demi menghadirkan pertarungan-pertarungan yang brutal dengan kualitas teratas dan menghibur. Segala gerakan-gerakan akrobatik maupun ground-fighting ditampilkan dengan sangat alami, tanpa mengurangi tingkat kelogisan yang memberikan kesan absurd.
Florentine nampaknya tahu benar selera para pecandu aksi laga dan mengerti kemampuan masing-masing aktor. Sangat terlihat bahwa Florentine memberikan kebebasan untuk para aktor agar dapat memberikan kemampuan terbaik mereka. Dari jaminan kepuasan yang diberikan, sekali lagi Isaac Florentine membuktikan bahwa ia adalah salah satu yang terbaik dalam aksi-aksi laga.

